Menjawab atau Mengacuhkan?

Hari ini tahun lalu aku menulis ini di linimasa ini. Judulnya “Kayu Gaharu”. Aku ingin mengulangnya sambil menambahi dan mengubah judulnya menjadi : “Menjawab atau Mengacuhkan”.

Bila ada seseorang yang “safih” berkata-kata kasar kepadamu, apa yang harus kau lakukan: membalas atau mengacuhkan?.

Imam al-Syafi’i, tokoh besar dalam fiqh (hukum Islam), suatu hari dicaci-maki oleh mereka yang tak paham atau “safih” (pandir). Ia tak ingin membalasnya. Lalu menulis puisi :

يُخَاطِبُنِي السَّفِيْهُ بِكُلِّ قُبْحٍ
فَأَكْرَهُ أَنْ أَكُوْنَ لَهُ مُجِيْبًا

يَزِيْدُ سَفَاهَةً فَأَزِيْدُ حُلْمًا
كَعُوْدٍ زَادَهُ الْإِحْرَاقُ طِيْبًا

“Seorang “safih” menyerang aku dengan kata-kata kasar. Aku tidak suka membalasnya. Dia bertambah “safih” dan aku bertambah sabar. Aku bagai kayu gaharu, manakala dibakar ia menebarkan aroma wangi”.

إذا نطق السَّفِيهُ فلا تُجِبْه
فخيرٌ مِن إجابتِه السُّكوتُ
فإن كلَّمته فرَّجت عنه
وإن خلَّيته كمدًا يموتُ

Bila si safih bicara kasar, jangan kau jawab (balas)
Jawaban yang terbaik adalah diamjahil
Bila kau menjawabnya, dia akan senang
Bila kau biarkan, dia akan jengkel setengah mati

(Diwan Asy-Syafi’i, hal. 156).

Di sini, di negeri ini, kini, sejumlah tokoh besar mengalami peristiwa yang sama dengan yang dialami Imam al-Syafi’i, dan mereka mengikuti cara yang sama. Maka mereka juga bagai kayu gaharu yang dibakar. Harum dan cemerlang. Semoga Allah selalu menjaga mereka.

Apakah arti “al-Safih”?. Sejumlah orang menerjemahkannya “al-Jahil” (orang bodoh). Ada yang mengartikan :

خفة العقل وسوء التصرف

“khiffah al-Aql wa Suu al-Tasharruf (berakal rendah dan berperilaku buruk).

Atau :

رداءة الخلق وقلة الادب

”Rida-ah al-Khuluq wa Qillah al-Adab”
(rendah akhlak dan kurang beretika).

Crb. 12.07.18
HM